Senin, 20 Februari 2012

MAKNA PUASA SEBAGAI PERTOBATAN


MAKNA PUASA SEBAGAI PERTOBATAN
Yl. 2:1-2, 12-17; Mzm. 51:1-17;  II Kor. 5:20-6:10; Mat. 6:1-6, 16-21


Tradisi puasa dalam kehidupan gereja Tuhan sesungguhnya telah terentang sejak gereja tampil di atas muka bumi. Bahkan secara teologis, gereja Tuhan telah mewarisi tradisi puasa dari umat Israel sebagaimana disaksikan oleh Alkitab Perjanjian Lama. Sehingga tradisi puasa dalam kehidupan jemaat Kristen Protestan bukan sekedar suatu ibadah yang mau “ikut-ikutan” misalnya dengan saudara kita yang beragama Islam. Juga kita tidak melaksanakan puasa karena gereja Roma Katolik telah melaksanakan ibadah puasa sejak dahulu. Demikian pula kita melaksanakan puasa bukan karena saudara-saudara seiman di gereja Pantekosta atau yang mengikuti aliran kharismatik sering melakukan ibadah “doa-puasa”. Kita melaksanakan puasa karena sesungguhnya puasa dipakai oleh Tuhan untuk melatih rohani kita agar spiritualitas kita makin terbuka untuk menghayati pertobatan sebagai sikap hidup. Pertobatan yang dimaksud adalah agar kehidupan kita makin berkenan di hati Tuhan dan setia memelihara kekudusan hidup. Itu sebabnya makna pertobatan bukan terletak pada upacara lahiriah dan kebiasaan keagamaan, melainkan pada pertobatan hati. Yoel 2:13 berkata: “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu”. Jadi yang dikehendaki oleh Tuhan dalam ibadah puasa adalah “hati yang mau dikoyakkan” sehingga kita menyesali dengan sungguh semua kesalahan dan dosa kita. Tuhan tidak menghendaki pakaian atau baju yang dikoyak karena penyesalan terhadap suatu dosa. Sehingga percuma saja umat Israel mengoyakkan pakaian atau jubahnya ketika mereka menyesali kesalahan dan dosanya, tetapi ternyata hati mereka tetap keras dan mereka terus berkanjang dalam dosa. Bahkan tindakan mengoyakkan pakaian dalam pengertian ini dapat berarti hanya sekedar suatu bentuk kepura-puraan belaka, yang artinya sama dengan kemunafikan. Manakala umat dipanggil untuk mengoyakkan hati, berarti dimaksudkan agar kita diajak untuk mengalami kasih dan pengampunan Allah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sebab Yahweh adalah Allah yang pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukumanNya (ayat 13b).

Namun pada sisi lain, nabi Yoel menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan yang berdaulat penuh atas hidup manusia. Itu sebabnya di Yoel 2:14, diawali dengan perkataan “siapa tahu….”  Dengan demikian Allah pada hakikatnya senantiasa bertindak berdasarkan keputusan dan kehendakNya yang berdaulat, dan tidak ada seorangpun dari manusia yang dapat mengendalikan Dia. Manusia tidak dapat mengendalikan atau mengatur kehendak Allah dengan berbagai doa dan puasanya. Karena itu saat kita berpuasa tidak boleh memiliki motivasi lain, selain sikap iman yang mau merendahkan diri secara total di hadapan Allah. Melalui puasa, selaku umat percaya kita ingin mengekspresikan sikap pertobatan. Sikap ini kita lakukan karena sikap bertobat harus dinyatakan dalam perbuatan, bukan sekedar rangkaian kata-kata yang saleh. Nabi Yoel mengajak umat Israel untuk bertobat dengan melakukan puasa yang kudus (Yoel 2:15). Wujud dari puasa yang kudus tersebut  ternyata tidak hanya tertuju kepada pribadi atau perseorangan tertentu, tetapi tindakan puasa pada prinsipnya juga melibatkan seluruh elemen atau seluruh tingkat usia dan berbagai generasi dari umat Allah, yaitu: mereka yang tua, anak-anak, bayi yang masih menyusu, pengantin laki-laki dan perempuan, para imam, dan pelayan-pelayan Tuhan (Yoel 2:16-17). Mereka semua tanpa terkecuali dipanggil untuk menangis di antara balai depan dan mezbah sambil berkata: “Sayangilah, ya Tuhan umatMu, dan janganlah biarkan milikMu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka” (Yoel 2:17). Jadi pertobatan yang dituntut oleh Allah bukan hanya ditujukan secara individual belaka, tetapi juga suatu pertobatan yang bersifat komunal, yaitu pertobatan sebagai umat Allah (kahal Yahweh). Itu sebabnya tindakan puasa sebagai wujud dari pertobatan umat diungkapkan oleh nabi Yoel dalam bentuk perintah  (imperatif), yaitu: “Kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah” (Yoel 2:16).  Dalam memahami firman Tuhan yang diucapkan oleh nabi Yoel ini, justru dalam kehidupan kita sehari-hari, sering makna puasa hanya dihayati sebagai bentuk kesalehan pribadi. Padahal yang dikehendaki oleh Tuhan agar kita selaku pribadi dan selaku persekutuan umat seharusnya konsisten dalam memberlakukan kekudusan hidup. Itu sebabnya sejak dahulu selama masa Pra-Paskah gereja-gereja Tuhan senantiasa memotivasi dan memberlakukan puasa kepada seluruh anggota jemaat agar mereka selaku persekutuan yang telah ditebus oleh Kristus sungguh-sungguh mau setia untuk memelihara hidup kudus dengan sikap bertobat. Jadi makna puasa seharusnya dihayati sebagai masa yang khusus untuk mengakui segala kesalahan dan dosa pribadi dan umat. Sehingga kita sungguh-sungguh dapat  berdamai dengan Allah yang akan memampukan kita untuk berdamai dengan diri sendiri dan berdamai dengan sesama.

Saat kita berpuasa juga dapat kita pakai sebagai media untuk melatih dan mempertajam spiritualitas dan iman yang kita miliki. Sehingga setelah berpuasa, seharusnya kita  dapat mengalami perubahan hidup; agar hidup kita menjadi lebih arif dalam menghadapi berbagai persoalan dan pergumulan yang terjadi. Hasil dari puasa adalah kemampuan spiritual untuk mengendalikan diri kita menjadi lebih optimal. Sebagai sikap pertobatan, maka dalam mempratekkan puasa seharusnya kita makin memiliki spiritualitas yang penuh kasih dan pengampunan kepada sesama. Tetapi bagaimana fenomena yang terjadi pada saat masa puasa di negara ini? Justru kita sangat prihatin karena dalam masa puasa di negara ini masih sering terjadi berbagai tindakan kekerasan fisik dan mental serta pengrusakan harta milik kepada sesama yang dianggap tidak “menghormati” mereka. Mereka merusak berbagai tempat seperti toko dan rumah-makan dari sesama yang sedang mencari nafkah dengan berjualan makanan dan minuman. Tempat-tempat tersebut dianggap oleh mereka dapat menggoda dan meruntuhkan “iman” orang yang sedang berpuasa sehingga harus dihancurkan. Jika kita hayati masa berpuasa sebagai masa di mana kita mau menempuh hidup baru dengan bertobat, dan untuk itu kita secara serius mau melatih diri untuk mengendalikan keinginan serta hawa-nafsu; maka seharusnya kita merasa malu telah mempraktekkan kekerasan pada masa puasa. Manakala kita ingin membela kekudusan Allah, maka seharusnya kekudusan Allah  tidak boleh dilepaskan dari kasihNya yang lembut. Karena itu menegakkan kekudusan Allah tidaklah dapat dibenarkan dengan penggunaan cara-cara kekerasan, sebab setiap cara penggunaan kekerasan selalu bertentangan dengan kasih dan pengampunanNya. 

Selain itu dalam menghayati sikap pertobatan, kita tidak boleh melakukan puasa secara demonstratif sehingga orang banyak mengetahui dan memberi pujian saat kita sedang berpuasa. Sebab makna pertobatan yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus adalah “spiritualitas yang tersembunyi”. Maksud dari “spiritualitas yang tersembunyi” adalah sikap rohani yang tidak mencari nama, pujian atau penghargaan manusia. Karena itu di Mat. 6:1 Tuhan Yesus berkata: “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga”. Betapa sering sikap pertobatan dipraktekkan hanya sebagai suatu demonstrasi kerohanian di hadapan publik agar semua orang dapat melihat dan memberi pujian tentang bagaimana saleh kehidupan keagamaan mereka. Apabila mereka melakukan demonstrasi rohani yang demikian, seharusnya mereka perlu menyadari bahwa sesungguhnya mereka sudah mendapat upah atau hasilnya, yaitu pujian dari manusia. Tetapi sikap mereka yang demikian tidak akan pernah mendapat penghargaan dan pujian dari Allah, sebab Allah sebagai Bapa hanya melihat yang tersembunyi (Mat. 6:4). Allah hanya peduli  kepada umatNya yang sungguh-sungguh merendahkan diri dan bertobat secara tulus serta tanpa mengasihi Dia tanpa syarat. Karena itu makna pertobatan yang benar di hadapan Allah bukanlah suatu publikasi berupa simbol-simbol sikap rohani yang ditampilkan secara sengaja  dengan berdiri di tikungan-tikungan jalan (Mat. 6:5), mengucapkan kalimat doa yang panjang bertele-tele (Mat. 6:7), atau menampilkan wajah yang kusam karena dia sedang berpuasa (Mat. 6:16). Makna pertobatan adalah sikap hati yang mau berubah di hadapan Allah, yang mana efek perubahan hidup itu dapat dirasakan oleh setiap orang di sekitarnya.  Jadi umat yang bertobat tentunya tetap wajib berdoa dengan khusuk, berpuasa dengan kesungguhan hati, dan sikap yang ikhlas, serta beribadah di rumah Tuhan dalam semangat spiritualitas yang tersembunyi. Tetapi kemudian dalam hidup sehari-hari mereka mampu membuktikan buah pertobatan dalam kehidupan mereka. Jadi puasa dan berdoa sebenarnya hanyalah awal dari sikap bertobat, tetapi perubahan hidup merupakan wujud yang sesungguhnya dari pertobatan.

Salah satu bentuk dari pertobatan adalah sikap yang tidak terbelenggu oleh harta, kekayaan dan uang. Itu sebabnya di Mat. 6:19, Tuhan Yesus berkata: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; sebab di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya”. Orang yang bertobat pada hakikatnya menyatakan bahwa hidupnya sepenuhnya milik Allah; jadi kehidupan orang percaya pada hakikatnya tidak lagi dimiliki oleh kuasa lain. Sehingga hati dan roh orang percaya hanya terarah kepada Allah. Sebaliknya orang yang tidak bertobat walau secara ritual dia telah banyak berdoa dan berpuasa, sesungguhnya dia masih dimiliki dan dibelenggu oleh kuasa dunia ini. Hatinya tetap melekat kepada kuasa dunia ini. Sehingga bagi mereka, makna puasa hanya dihayati sebagai “diet” terhadap makanan dalam kurun waktu yang cukup panjang. Selama masa puasa mungkin mereka mampu menolak setiap makanan yang ada di depannya, tetapi mereka menjadi sangat serakah setelah puasa selesai. Juga mereka mungkin sangat taat untuk tidak menyentuh setiap makanan selama masa berpuasa, tetapi tak lama kemudian mereka merebut secara sewenang-wenang dengan tipu daya setiap “makanan” yang dimiliki oleh sesamanya. Dalam hal ini mereka berpuasa bukan karena mereka bertobat dan menyesali semua kesalahan atau dosanya, tetapi puasa dilakukan agar mereka  dapat memperoleh pahala dari Tuhan agar dosa-dosa yang diperbuat sebelumnya diampuni. Kemudian pada tahun mendatang mereka berpuasa kembali agar Tuhan juga mau mengampuni dosa-dosa yang telah dilakukan. Dalam pemahaman yang demikian puasa telah dimanipulasi secara teologis untul menyembunyikan dan melegalkan berbagai perbuatan dosa yang telah dilakukan. Mungkin mereka tidak menyadari manipulasi teologis tersebut karena mereka memiliki keyakinan dalam alam bawah sadar, bahwa puasa pasti mendatangkan pahala bagi yang melakukannya. Padahal sesungguhnya hati mereka tidak pernah bertobat, sebab jiwa dan roh mereka masih terikat oleh kuasa Mammon.

 Bukankah kita makin menyadari bahwa betapa sangat sulit bagi kita untuk melepaskan diri dari kuasa Mammon? Mungkin kita cukup mampu berpuasa untuk tidak makan pada saat tertentu, tetapi kita sering gagal melepaskan diri dari kuasa harta dan uang yang kita miliki. Sehingga benarlah perkataan Tuhan Yesus yang berkata: “Karena di mana hartamu berada,di situ juga hatimu berada” (Mat. 6:21). Selaku umat percaya kita dipanggil oleh Tuhan agar kita berpuasa untuk melawan kuasa Mammon. Sehingga makna puasa dalam pengertian ini adalah berarti melawan dengan rahmat dan anugerah Allah segala bentuk nafsu konsumerisme dan dorongan materialisme, sehingga hidup kita tertuju hanya untuk mempermuliakan namaNya. Jika demikian, sampai sejauh mana kita telah mempraktekkan spiritualitas yang bebas dari keterikatan dengan harta milik dan kuasa Mammon? Sebenarnya ketika kita mampu melepaskan diri dari keterikatan dari harta milik dan kuasa Mammon, saat itu kita telah mempraktekkan puasa dalam pengertian yang sesungguhnya. Sehingga mungkin kita tidak pernah “diet” makanan selama masa berpuasa, tetapi sesungguhnya jiwa dan roh kita telah berpuasa sebab terbukti kita telah mampu menolak segala keinginan dan hawa nafsu dunia ini.  Jadi bagaimanakah sikap hidup saudara pada saat ini? Apakah kita kin makin  dapat menghayati makna hari Rabu Abu sebagai sikap pertobatan agar hidup kita seluruhnya tidak lagi dibelenggu oleh kuasa dunia ini? Jika kita telah hidup dalam pertobatan, apakah kita kini mau memberlakukan kasih dan pengampunan Allah secara nyata kepada setiap orang? Saat kita berpuasa dengan tulus, apakah spiritualitas kita makin menjadi jernih sehingga kita makin dapat merasakan dengan penuh empati setiap orang yang sedang menderita dan kelaparan? Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar